Sabtu, 24 Desember 2011

Wisata Sejarah "Masjid Kuno Kuncen dan asal-usul Kota Madiun"

          Masjid Kuno Kuncen atau Masjid Nur Hidayatulloh adalah masjid tertua yang ada di kelurahan Kuncen, kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Masjid ini mengandung nilai sejarah yang sangat tinggi, selain karena bangunan masjid serta artefaknya, juga terdapat peninggalan-peninggalan kerajaan terdahulu, terdapat makam para bupati Madiun, terdapat Sendang dan pohon besar yang merupakan asal usul Kota Madiun. 

Tanah Perdikan Kuncen
            Beberapa peninggalan Kadipaten / Kabupaten Madiun yang salah satunya dapat dilihat di Kelurahan Kuncen, dimana terdapat makam Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno, Bupati Mangkunegara I, Patih Wonosari dan para Bupati Madiun lainnya yang merupakan pahlawan-pahlawan pendiri Kota Madiun, selain makam para bupati, Masjid Tertua di Madiun masih kokoh menjadi saksi, yaitu Masjid Nur Hidayatullah, artefak-artefak disekeliling masjid, serta sendang (tempat pemandian) keramat.
Sejarah Masjid Kuno Kuncen
            Pada tahun 1568 terjadilah sejarah baru di Kesultanan Demak yang berdampak di daerah Madiun dan sekitarnya. Setelah berakhirnya perang saudara yang dimenangkan oleh Mas Karebet atau Jaka Tingkir yang selanjutnya disebut Hadiwijaya, dengan restu para wali menggantikan kedudukan mertuanya Sultan Trenggono sebagai sultan, tetapi tidak mau berkedudukan di Demak melainkan memindahkan pusat pemerintahannya ke Pajang. Putra Sultan Trenggono lainnya atau adik ipar Sultan Hadiwijaya yang bernama Pangeran Timur oleh Sunan Bonang yang mewakili para wali diangkat menjadi Bupati Madiun pada tanggal 18 Juli 1568, yang selanjutnya disebut panembahan Rama atau Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno yang memerintah pada tahun 1568 – 1586.
             Pada tahun 1575 dengan berbagai pertimbangan  Bupati Pangeran Timur memindahkan pusat pemerintahan dari utara Kelurahan Sogaten ke selatan menuju Keluran Kuncen dulu Wonorejo. Pangeran Timur selaku Bupati disamping berkewajiban mengendalikan jalannya pemerintahan, juga membawa misi penyebaran agama Islam. Pembangunan agama identik atau tidak lepas dengan pembangunan tempat ibadah yaitu masjid. Dengan demikian patut diduga bahwa masjid Kuno Kuncen atau disebut   Masjid Nur Hidayatullah pada zaman Bupati Pangeran  Timur memerintah Kabupaten Madiun yang berpusat di sekitar Kelurahan Kuncen dan masjid tersebut berdiri di Kuncen setelah tahun 1575 atau pada akhir abad XVI
            Status wilayah Wonorejo sebagai tanah makam dan juga ada masjid, maka Kyai yang merawat areal tersebut juga bertindak sebagai kepala desa, dan diberi kebebasan menguasai daerah sekitar area makam dan masjid. Kyai Grubug merupakan guru dalam ilmu agama Islam, dan Kyai Grubug  inilah yang pertama kali berkuasa di Desa Perdikan Kuncen ini yang juga mengelola masjid maupun makam, hingga sekarang ada empat belas Kyai yang pernah berkuasa di Desa perdikan Kuncen beserta mengurusi masjid dan makam, diantaranya: 1).Kyai Grubug, 2).Kyai Semin I, 3).Kyai Semin II, 4).Kyai Semin III, 5).Kyai Semin IV, 6). Kyai Djodo, 7).Kyai Muhammad Ngarib, 8).Kyai Kasan Basari, 9).Kyai Muhammad Mardo, 10).Kyai Muhammad Mardi, 11).Kyai Darsono, 12).Kyai Sutopo, 13).Kyai Karsono, 14).Kyai Kentjono
            Sebenarnya masjid yang ada di Kelurahan Kuncen itu belum ada nama sama sekali, karena tidak adanya sumber tertulis mengenai nama masjid tersebut. Selanjutnya dari tahun ke tahun nama masjid kuno yang terdapat di Kelurahan Kuncen tersebut dahulu dikenal dengan nama Masjid Kuno Kuncen, kerana keberadaan masjid tersebut berdekatan dengan makam yang terdapat juru kunci kemudian dinamakan kuncen dan juga disesuaikan dengan nama Kelurahan Kuncen karena keberadaan masjid berada di Kelurahan Kuncen, maka dari itu masjid kuno ini dikenal dengan nama Masjid Kuno Kuncen. Selanjutnya pada tahun 1970 warga Kuncen bersepakat merubah nama masjid sebelumnya Masjid Kuno Kuncen diubah nama menjadi Masjid Nur Hidayatullah, walaupun sudah dinamakan Masjid Nur Hidayatullah akan tetapi nama yang masih dikenal oleh warga Madiun sampai sekarang adalah Masjid Kuno Kuncen.
Asal Mula Nama Madiun
            Pada masa pemerintahan Ki Ageng Reksogati dan Pangeran Timur nama Madiun belum ada, daerah ini dulu disebut Kadipaten Puroboyo. Asal kata Madiun mempunyai banyak versi, yang ditinjau dari berbagai sudut pandang, diantaranya yaitu : gabungan dari : kata “medi” (hantu) dan “ayun-ayun” (berayunan), yaitu dikisahkan ketika Ki Mpu Umyang / Ki Sura bersemedi untuk membuat sebilah keris di sendang panguripan ( sendang amerta ) di Wonosari ( Kuncen, sekarang ) diganggu gendruwo/ hantu yang berayun-ayun di pinggir sendang, maka keris tersebut diberi nama ”Tundung Mediun”. Kemudian cerita lain berasal dari “Mbedi” (sendang) “ayun-ayunan” (perang tanding) yaitu perang antara Prajurit Mediun yang dipimpin oleh Retno Djumilah di sekitar sendang. Kata ”Mbediun” sendiri sampai sekarang masih lazim diucapkan oleh masyarakat terutama di daerah Kecamatan Kare, Madiun. Mereka mengucapkan Mbediun untuk menyebutkan Madiun, versi berikutnya adalah Madya-ayun yaitu Madya ( tengah ) ayun ( depan ), Pangeran Timur adalah adik ipar dan juga salah satu bangsawaan Demak yang sangat di hormati oleh Sultan Hadiwijoyo di Kasultanan Pajang, maka pada waktu acara pisowanan beliau selalu duduk sejajar dengan Sultan Hadiwijoyo di Madya ayun ( tengah depan ). Dan letak sendang ini satu kompleks dengan Masjid Kuno Kuncen, ini sangat strategis untuk dijadikan wisata religius karena banyak mengandung sejarah dan peninggalan-peninggalan yang perlu dilestarikan.
            Wisata sejarah yang mengandung nilai religius tinggi ini sudah diberi anggaran dan rancangan bangunan untuk merawat serta melestarikan bangunan-bangunannya.  Sejak tahun 2006 dilaksanakan kembali tradisi mataraman, yaitu grebeg maulud Nabi Muhamad, SAW dengan acara kirab gunungan jaler dan gunungan estri dengan dinaikan ke kereta kuda dari Masjid Kuncen menuju ke Masjid Donopuro Taman, atau dari Alun-alun Madiun menuju ke Masjid Taman.
   


Gambar 1. Gapuro Masjid Kuno Kuncen Dari Depan.

Gambar 2. Bagian dalam masjid.

Gambar 3. Pintu Masuk atau Gapuro Makam.

terletak di samping masjid

Gambar 4. peninggalan sejarah.

gambar 5. peninggalan sejarah. 

Gambar 6. Sendang Kuncen keramat.
dulu Sendang digunakan para dayang untuk mandi.

Gambar 7. Prasasti Sendang kuncen.
gambar 8. Penetapan Cagar Budaya kuncen.

Nilai-Nilai Hidup Yang Bergeser


Akhlak secara etimologi diambil dari bahasa Arab yang berarti sikap atau tingkah laku manusia yang akan mempunyai nilai baik dan buruk. Akhlak manusia bila dikaji dengan pendekatan makna dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan moral.

Moral baik dan buruk sifatnya relatif dan subjektif, tergantung konvrsi masyarakat yang menyepakatinya. Misalnya: Bagi budaya barat berciuman di depan umum adalah merupakan hal yang wajar dan biasa. Beda halnya dengan budaya timur, seperti di Indonesia berciuman di depan umum adalah perbuatan yang tidak baik.

Namun bagaimana pun nilai baik dan buruk itu selalu mengalami pergeseran dari generasi ke generasi. Jadi akhlak manusia itu akan mengalami perubahan persepsi dalam memandang kebenaran sesuatu, walaupun pergeseran makna tersebut belum tentu semuanya dapat dibenarkan. Oleh sebab itu, standart nilai baik dan buruk itu adalah agama, sebab penilaian agama terhadap sesuatu tidak akan pernah berubah.

Pergeseran nilai-nilai yang terjadi saat ini banyak sekali. Jika dahulu dalam budaya orang Indonesia hubungan seks diluar nikah adalah sesuatu yang sangat tabu dan diharamkan oleh agama, namun generasi sekarang melakukan hubungan seks diluar nikah sudah dianggap merupakan hal yang biasa, bahkan dipandang bagian dari gaya kehidupan.

Jika dahulu ada perempuan hamil diluar nikah (tanpa suami) adalah sebuah aib besar, bahkan tidak jarang orang tua si-perempuan mengungsikan anaknya ke tempat yang jauh sampai ia melahirkan anaknya. Zaman sekarang hal itu sudah dianggap biasa dan orang akan
memakluminya.

Bahkan banyak diantara orang tua yang membuat pesta terhadap anaknya secara meriah, sehingga seolah-olah orang tua tersebut merestui perbuatan anaknya yang sudah hamil tanpa suami. Bahkan yang paling mengherankan ada diantara masyarakat yang memandang perbuatan itu adalah hal yang wajar dan merupakan faktor manusiawi. Pemikiran seperti ini sudah lebih jauh menyimpang dari tatanan yang ada, baik ditinjau dari adat-istiadat ketimuran, terlebih-lebih ditinjau dari sudut pandang agama. Inilah yang dinamakan pergeseran nilai yang menyimpang dari makna kebenaran.

Saat ini banyak orang yang memandang kebenaran tidak lagi menjadikan aturan agama sebagai tolok ukur, tetapi dengan dalih kebebasah hak asasi manusia. Akhirnya mereka bebas melakukan apa saja tanpa berpikir apakah perbuatannya layak atau tidak. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi hal tersebut, manusia harus kembali kepada nilai-nilai moral yang berlandaskan kepada aturan agama yang sifatnya tidak bisa ditawar-tawar.

Perlu disadari, kebebasan berpikir dan bertindak bukan berarti kebebasan melakukan apa saja yang kita inginkan. Kita masih punya aturan Tuhan yang harus di taati. Kita lahir kedunia bukan untuk menjalankan kebebasan tetapi untuk menjalankan aturan.

Masalah orang merasa terbelenggu atau tidak dengan aturan Tuhan, hal itu kembali kepada kepada setiap pribadi seseorang, bagaimana kita menyikapi aturan itu yang akan menuntun manusia kepada akhlak yang baik.

Jadi, akhlak yang baik dan benar adalah akhlak yang dirumuskan dalam Al-Qur’an dan Hadits, dengan menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

( Drs. H. Khairul Akmal Rangkuti )

Aku Bangga Menjadi Seorang Wanita

Aku bangga terlahir sebagai seorang wanita. Begitu mulianya seorang wanita, sehingga Allah meletakkan surga di bawah telapak kaki seorang ibu. Begitu mulianya seorang wanita, sehingga Allah menyematkan wanita sholehah sebagai perhiasan dunia yang terindah. Begitu mulianya seorang wanita, sehingga Rasul mengatakan seorang wanita sholehah lebih baik daripada 1000 lelaki yang sholeh.

Aku lalu bertanya, sesungguhnya apa yang membuatku bisa begitu mulia? Apakah ketika aku menjadi seorang wanita karir? Apakah ketika aku bisa merebut posisi laki-laki di ranah pekerjaan? Apakah ketika aku bisa menjadi pemimpin kaum lelaki? Apakah ketika aku bergelar sarjana, master dan doktor? Apakah ketika pesona tubuhku melenakan jutaaan pasang mata yang melihatnya? Apakah ketika aku merasa bisa berdiri sejajar dengan kaum lelaki di sektor publik?

Aku terlahir sebagai wanita yang kusadari memang ada yang berbeda. Aku memiliki kelembutan untuk menyayangimu. Aku memiliki kesabaran untuk menjadi sandaranmu. Aku memiliki ilmu untuk membantumu. Aku memiliki cinta untuk menjadikanmu nyaman dengan kehadiranku. Aku memiliki rasa hormat untuk membuatmu menjadi dihargai. Aku memiliki ketegasan untuk menjaga kehormatanku.

Wanita menjadi mulia saat ia bisa menjadi seorang istri yang bisa mendukung perjuangan suami, menjadi seorang ibu yang bisa mencetak generasi idaman umat, menjadi anggota masyarakat yang bisa berperan dalam lingkungannya, dan menjadi seorang hamba yang takut pada Rabbnya.

Wanita menjadi mulia saat tak silau oleh bujuk rayu dunia, tak luntur oleh terpaan badai ujian, tak goyah oleh kilauan permata, tak runtuh oleh ganasnya gelombang badai kehidupan, dan menjadi sosok yang tegar sekuat batu karang.

Wanita menjadi mulia bukan karena balutan busana seksinya. Ia menjadi mulia dengan hijabnya, hijab yang hanya akan dibuka pada orang yang layak untuknya. Karena Ia laksana mutiara di tengah lautan, yang tidak sembarangan orang bisa menyentuhnya, bukan laksana mawar di pinggir jalan yang setiap orang bisa memetiknya bahkan membuangnya sesuka hatinya.

Wanita tak akan menurun kemuliannya saat tidak dianggap berkulit putih, bertubuh langsing, berambut lurus, berwajah cantik, dan berbarang merk mahal dan terkenal. Tapi dia akan menunjukkan diri dengan akhlak mulianya, kelembutan hatinya, kesantunan lisannya, ketulusan senyumnya, keteduhan pandangannya, kecerdasan fikir dan emosinya, serta keteguhan sikapnya.

Wanita tak lebih menurun kemuliannya ketika Ia hanya menjadi ibu rumah tangga. Bahkan itu adalah profesi paling mulia bagi seorang wanita, ummu warobatul bait, yang dimata para feminis dan pejuang gender tak ada nilainya. Bukankah kemuliaan tertinggi hanya di mata Allah? Dan menjadi ibu dan pengatur rumah tangga adalah multiprofesi tanpa gaji tapi berpahala tinggi. Di tangan seorang istrilah dukungan utama perjuangan suami, sandaran rasa lelah suami, tempat terindah keluh kesah suami, dan hiburan paling mujarab bagi suami.

Di tangan seorang ibu lah generasi dilahirkan, dipersiapkan, dididik dan diperhatikan. Dialah madrasah pertama dan utama, yang melahirkan calon-calon generasi andalan umat. Dialah manajer rumah tangga paling handal, direktur keuangan paling mumpuni dan partner paling hebat untuk keluarga, yang menjadikan rumahnya adalah baity jannati bagi siapa saja yang berada bersamanya.

Maka berbanggalah dengan peranmu wahai wanita, dan jadikanlah dirimu sebenar-benar perhiasan dunia.


Lembut mu tak berarti kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati

Disebalik bersih wajah mu disebalik tabir diri mu
Ada rahasia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada ilahi
Berpegang pada janji mengabdikan diri

Malu mu mahkota yang tidak perlukan singgasana
Tapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
Tiada siapa yang akan boleh merampasnya
Melainkan kau sendiri yang ikhlas dan terikat ikatan suci

Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara
Mahligai syurga itulah tempatnya
 
"dikutip dari : Annisa Mutiara Hati